Text
Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa
Karya tulis ini merupakan adaptasi dari disertasi penulis yang berjudul “Kala air tidak lagi menjadi sahabat: banjir dan pengendaliannya di Jakarta 1911-1985”. rnPada tahun 2009 provinsi paling barat di Indonesia, Aceh, sedikitnya dilanda banjir sebanyak 40 kali.Daerah terparah terjadi di Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhoksumawe, Aceh Timur.Banjir disebabkan kerusakan lingkungan dan curah hujan yang tinggi.Dalam waktu bersamaan daerah-daerah di Sumatera juga merasakan bencana banjir.Daerah yang dilanda banjir diantaranya Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Barat.Misalnya di Dharmasraya, Sumatera Selatan, ratusan rumah terendam banjir, begitu juga di Koto Besar, Padang Laweh, Sitiung dan Timpeh. Bahkan di kota Bengkulu khususnya di Tanjungagung dan Tanjungjaya, Kecamatan Sungaiserut, Kelurahan Bentiring dan Rawamakmur terendam sampai ketinggian satu meter. Sementara itu, Kabupaten Kerinci dan Merangin, Jambi, curah hujan yang tinggi mengakibatkan banjir dan merendam puluhan rumah dan sawah seluas 1.500 hektare akibat meluapnya sungai-sungai yang berhulu di Bukit Barisan, Kerinci.rnBanjir juga terjadi si Sulawesi Utara, pada tanggal 13 Februari 2009, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie melakukan peninjauan ke Kelurahan Ternate, Kelurahan Paldua, Sario dan Kabupaten Minahasa. Dalam kunjungan tersebut Menteri memberi sumbangan sebesar Rp. 250 juta untuk korban bencana banjir. Akibat banjir kerugian yang diderita warga diperkirakan sebesar Rp 93,7 miliar rupiah. Sementara itu, untuk penanggulangan banjir Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara hanya menyiapkan dana Rp 15 miliar. Selain di Sulawesi Utara di pulau Sulawesi yang dilanda banjir adalah kota-kota di Sulawesi Selatan.rnDi Pulau Jawa, Bengawan Solo dan Sungai Brantas adalah sungai yang paling banyak menumbang banjir untuk daerah yang dialiri. Di Kediri anak sungai Brantas mengakibatkan permukiman dan persawahan terendam banjir.Begitu juga daerah-daerah yang dialiri Bengawan Solo.Sungai dengan panjang 600 kilometer yang hilirnya berada di daerah Wonogiri dan bermuara di Pantai Utara Jawa seolah menjadi sumber bencana bagi warganya ketika musim hujan tiba.Kota-kota di sepanjang sungai ini dari Solo, Sragen, Ngawi, Madium, Bojonegoro dan Gresik adalah daerah yang paling parah dilanda banjir Bengawan Solo.Banjir di DAS Bengawan Solo terjadi karena rusaknya hutan di daerah aliran sungai Bengawan Solo.Misalnya saja sekitar 300 hektar dari 1.600 hektar hutan yang menjadi sabuk hijau waduk Gajah Mungkur rusak karena dijarah penduduk sesaat setelah Soeharto jatuh. Hal ini mengakibatkan berkurangnya daya tampung waduk menjadi 300 juta meter kubik dari yang seharusnya 500 meter kubik. Begitu juga hutan-hutan di lereng Gunung Lawu banyak yang dijarah.Jadi banjir yang terjadi sebagian besar karena rusaknya daerah aliran sungai (DAS) akibat penjarahan dan alih fungsi lahan yang berlebihan.rnKini banjir sudah menjadi fenomena bencana nasional.Berapa besar kerugian yang diakibatkan banjir di setiap daerah tiap tahunnya, betapa besar biaya yang dikeluarkan oleh Pemerintah dan masyarakat untuk bencana yang sebenarnya bisa diantisipasi sejak dini.Banjir tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi sudah menyebar ke daerah-daerah pedalaman yang semestinya menjadi daerah resapan air.rnDi kota-kota besar seperti Jakarta banjir bahkan tidak hanya menjadi masalah sosial ekonomi, tetapi juga menjadi fenomena politik.Seperti ketika berlangsung pemilihan kepala daerah di Jakarta beberapa waktu lalu. Pada tanggal 8 Agustus 2007, Pemerintah DKI Jakarta melaksanakan pemilihan Gubernur Kepala Daerah periode 2007-2012, dengan menampilkan dua calon yaitu Adang Daradjatun dan Fauzi Bowo. Dalam programnya kedua kandidat menempatkan masalah banjir sebagai prioritas utama yang harus ditangani. Fauzi Bowo dalam janji kampanyenya mengatakan bahwa solusi yang disiapkan untuk mengatasi banjir adalah mempercepat penyelesaian pengerjaan kanal banjir timur, normalisasi kanal banjir barat dan sungai yang melintasi Jakarta: Ciliwung, Pesanggrahan, Krukut serta pengembangan sistem peringatan dini dan mitigasi bencana banjir. Sementara itu, Adang Daradjatun berjanji akan mempercepat pembangunan kanal banjir timur, perbaikan drainase kota, revitalisasi daerah aliran sungai, kawasan hijau dan daerah resapan air. Meskipun janji kampanye itu dianggap normative dan tidak melihat realitas yang sebenarnya, karena tidak dikaitkan dengan kondisi keuangan dan realitas sosial masyarakat Jakarta, tetapi hal ini memperlihatkan bahwa pengendalian banjir tidak hanya menyangkut masalah ekonomi, sosial dan budaya, tetapi juga masuk ke dalam ranah politik. Terbukti untuk memenangkan pilkada, para kandidat gubernur harus bisa menjamin bahwa masyarakat Jakarta tidak kebanjiran lagi.rnJanji kampanye yang disampaikan oleh calon Gubernur tersebut wajar saja mengingat Jakarta setiap tahun dilanda banjir da nada kecenderungan wilayah yang dilanda banjir semakin luas. Misalnya daerah Grogol dan Petamburan yang berada di dekat Kali Jeling anak sungai Ciliwung, terkena banjir sejak tahun 1970-an. Sementara itu, daerah Bidara Cina mulai dilanda banjir sejak tahun 1960-an. Hal yang sama juga terjadi di daerah Pondok Aren, Tangerang, yang berdekatan dengan sungai Pesanggrahan, daerah ini dilanda banjir sejak tahun 1970-an. Banjir terjadi karena adanya pengembang (developer) yang membangun komplek perumahan di sekitar Pondok Aren.rnBanjir yang terjadi di suatu wilayah sangat terkait dengan kondisi alam dan penataan kota. Kondisi alam yang menyangkut factor geografi seperti geologi, iklim, curah hujan, dan geomorfologi merupakan unsur yang perubahannya berjalan lambat bahkan bisa ratusan tahun. Selain factor geografi, hal lain yang mempengaruhi besar kecilnya banjir adalah kebijakan penataan kota Jakarta yang meliputi pembangunan kota dan perilaku penduduknya.rnBuku ini akan memaparkan bagaimana upaya pemerintah dan masyarakat Jakarta dalam mengendalikan banjir yang merupakan gejala alam dikaitkan dengan gejala sosial dan budaya masyarakat.rn
| 090101413 | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain