Text
Change !: Manajemen Perubahan dan Manajemen Harapan
Berubah atau mati Buat apa suatu perusahaan atau institusi terus dipertahankan kalau ia hanya menjadi beban masyarakat? Hidup, tetapi mengidap penyakit ketuaan, tidak member manfaat dan menyulitkan banyak orang. Untuk membuat sebuah perubahan menghasilkan prestasi besar.rnDalam setiap perubahan selalu ada pihak : Mereka yang menganut asas “seeing is believing” dan “believing is seeing”. Padahal untuk mencipatakan perubahan, pertama-tama harus ada yang bisa mengajak semua pihak “melihat”. Namun ini saja tidak cukup. Mereka yang “melihat” belum tentu “bergerak” dan yang “bergerak” belum tentu “mampu menyelesaikannya”. Sebagian besar orang telah terperangkap oleh kesuksesan masa lalu. Dan seperti kata Peter Drucker, bahaya terbesar dalam turbulensi bukanlah turbulensi itu sendiri, melainkan “cara berpikir kemarin” yang masih dipakai untuk memecahkan masalah sekarang.rnBuku ini dilengkapi kasus-kasus di Indonesia, bagaimana para change makers melakukan transformasi di sini dan di seluruh dunia. Dari Bupati Darmili (Pulau Simeulue), Almarhum Cacuk Sudariyanto (Telkom), Sjamsir Kadir (Pegadaian), Marzuki Usman (Bapepam), Pramukti Surjaudaja (Bank NISP), sampai Lee Kuan Yew (Singapore), Vaughn Beals (Harley Davidson), Lee Iacocca (Chrysler), Robert Noyce (intel), sampai Jose Maria Figueres (Costa Rica). Mereka melakukan transformasi structural, sekaligus cultural. Membuat perubahan bak sebuah “pesta” yang menyenangkan.rnSelain kasus, buku ini dilengkapi oleh kata-kata mutiara perubahan yang membuat kita lebih menghargai perubahan dan lebih mampu memahami manajemen perubahan dan manajemen harapan.rnKeterbukaan dalam berpikir membuat seseorang lebih mudah menerima perubahan. Tetapi baginya itu tidak cukup. Perubahan tidak boleh menjadi sekadar wacana saja. Untuk menggulirkan perubahan, seorang pemimpin harus mampu mengajak orang lain melihat apa yang ia “lihat”, bergerak, dan menyelesaikannya. Rhenald Kasali, mengajak kita melakukan perubahan dengan tuntas.rnPergaulan internasionalnya membuat ia berkeyakinan bahwa perubahan di negeri ini sudah sangat mendesak. Ia adalah mitra kerja Prof. Michael Porter dari Harvard University untuk mendorong perusahaan-perusahaan, daerah-daerah, dan pemerintah memperbaiki daya saing (competitiveness). Ia juga membentuk kolaborasi dengan beberapa universitas di Asia untuk mengembangkan konsep cluster.rnIa terlibat dalam memperbarui perusahaan-perusahaan di Indonesia, bahkan menjadi komisaris independen pada dua perusahaan yang sudah memasuki tahap krisis, yaitu PT. Indofarma dan PT. Dirgantara Indonesia. Baginya, kedua perusahaan tersebut hanya bisa selamat kalau dikelola dengan cara-cara baru. Disamping itu, ia juga tengah terlibat memperbarui perusahaan-perusahaan lainnya. Dan kini ia menjadi komisaris independen pada sebuah perusahaan otomotif, jarang sekali ditemui guru dan manusia professional multidimensi dengan pandangan segar seperti penulis buku ini.rnDi program Doktoral Ilmu Manajemen UI yang dipercayakan kepadanya, ia juga melakukan transformasi. Dari sebuah program yang terkesan tua dan menyeramkan menjadi program yang disegani, berkualitas, dan berenergi.rn
| 090100586 | Tersedia | ||
| 090100587 | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain